Air tanah kian hari kian hilang? Salam sehat semua :) . Kali ini dibahas mengenai Air tanah kian hari kian hilang dan kian menyusut. Artikel ini bersumber dari Kompas, Jumat, 19 Oktober 2007 dengan judul asli “Air tanah kian menyusut”. Yang bisa saya katakan, semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran agar kita tidak menghambur-hamburkan uang, ups maksud saya air. :D

————————————–

Sebagian warga DKI Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan air tanah yang kian menyusut. Padahal air tanah masih menjadi andalan sebagian besar warga akan air bersih. Kondisi itu juga terjadi di wilayah selatan Ibu Kota yang selama ini disebut sebagai kawasan resapan air.

Warga di kawasan Tegal Parang, Mampang Prapatan misalnya, mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih sejak bulan puasa lalu. “Sejak pertengahan puasa, dua minggu pertama, air sudah mulai menyusut sampai akhirnya kering sama sekali,” kata Asmani, warga Gang C, RT 08 RW 04, Tegal Parang Utara.

Tetangga Asmani di sepanjang gang itu pun mengalami kesulitan yang sama. Meskipun sebagian wilayah tersambung dengan instalasi pipa air PDAM, warga mengaku keberatan dengan buruknya kualitas air dan biaya bulanan yang harus mereka tanggung.

Warga di RT 01 RW 02, Kelurahan Rawa Barat, Kebayoran Baru, juga mulai kesulitan air. Debit air dari sumur pompa semakin mengecil. Untuk mengisi air satu ember saja perlu waktu hingga setengah jam. “Itupun suara pompa sudah berisik, harus cepat-cepat dimatikan. Kalau tidak bisa rusak,” ujar Yudi (44).

Keluhan serupa dirasakan warga Kelurahan Kebayoran Lama Utara. Mulyadi (73), warga di Gang Sarkawi, RT 06 RW 03, mengaku baru memperdalam sumurnya sebelum Lebaran karena kering. Setelah diperdalam 12 meter lagi menjadi 42 meter, air baru keluar. “Sudah 20 tahun saya tinggal disini, baru kali ini (terjadi seperti ini),” ujar Kartini (60).

Penyusutan debit air tanah juga terjadi di kawasan Setiabudi. Sebagian warga yang menggunakan air PDAM juga mengeluhkan suplai air yang kerap mati atau debitnya sangat kecil. Warga menggunakan air PDAM untuk keperluan mandi dan mencuci, sedangkan air tanah untuk minum. “Mati hidup terus. Airnya juga jelek banget enggak bisa dimasak buat air minum. Air sumur juga menyusut,” ucap Nasri (56), warga RT 02 RW 02.

Tiga Bulan Terhenti

Pasokan air bersih ke sejumlah desa di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, malah terhenti sejak tiga bulan lalu. Untuk kebutuhan memasak dan minum, warga membeli air bersih seharga Rp. 1.500 per jerigen dengan kapasitas isi 25 liter.

————————————–

Informasi menarik lainya mengenai produk kesehatan yang luar biasa klik di sini: produk jus kulit manggis xamthone plus

Salam sehat …

 😀 Air tanah kian hari kian hilang :D